Takdir baik adalah

Kita bertumbuh
Kita marah
Kita takut
Kita merajuk
Kita menggerutu
Kita mengeluh
Kita tertawa
Kita menangis

Kita merasakan ….

Takdir baik jatuh kepadaku

Iklan

Dia, kesadaran, ruang dan waktu

Ruang dan waktu mengada karena kita menyadari ia ada
Ruang dan waktu adalah tanda eksistensi diri kita
Pada proses meruang dan mewaktu itu, kita menyadari banyak hal yang rumit
Ia dirangkum dengan nama kehidupan

Pada caraku meruang, kompleksitas itu adalah selain daripada akibat dari tindakan diriku, juga tentang takdir dari Tuhan
Bagaimana bisa aku melihat masa depanku di kampung ini akan tinggal, ketika satu tahun yang lalu, sesaat setelah aku menuliskan surat lamaran untuk menjadi abdi negara
Bagaimana mampu aku membaca masa depan ketika disini, aku tidak hanya mendatangi rezekiku tetapi juga menjemput jalan jodohku

Ia adalah takdir yang menyenangkan
Cinta kami bertemu, bertumbuh dan dalam segala situasi waktu
Ia adalah kehadiran yang paling kusadari

Antar jujuran

Aku sangat mencintaimu tanpa suatu alasan. Malam ini, banyak orang berkumpul di rumah julak. Di dalam, ibu2 melangsungkan prosesi mengantar jujuran. Di teras rumah, bapak2 berdiskusi menunjuk panitia. Aku duduk diantara banyak orang itu. Sementara kamu di dalam duduk di depan, sangat cantik. Aku mencuri pandang diantara kerumunan orang-orang.

Semua keluarga besarmu berkumpul. Semua orang yang malam itu berhadir disana. Adalah untuk merencanakan pernikahan kita. Kita adalah pusat perhatian malam itu.

Ya. Kita akan melangsungkan pernikahan. Sebaik2 doa selalu kita panjatkan. Semoga lancar segala rencana kita. Amin..

Ketika bangun tidur di tengah malam

Tengah malam begini aku terbangun dari tidur. Kamar ini selalu dirutuk sepi. Selintas, pikiranku bekerja membongkar kenangan-kenangan. Tentang kamu, waktu yang kita jalani, juga perasaan kita.

Sekeras apapun diriku pernah berdiri, sendiri di jalur ideologis jomblo. Aku tak akan bisa menyangkal bahwa kau adalah yang aku butuhkan, tak kurang, dan tak lebih.

Kita pernah capek bersama, sedih bersama, senang bersama. Semuanya berkesan.

Aku masih ingat pertama kali aku ke rumahmu. Bajuku abu-abu. Celanaku krim. Kamu pakai baju tidur atasan putih bawah merah. Aku masih ingat sirup marjan yang kau suguhkan. Posisi dudukku. Juga kita yang malu-malu.

Aku masih ingat kita ke mintuung. Kita mesan jus alpukat. Hanya ada satu warung disini ketika malam serta hanya ada dua jus di warung itu: jus buah naga dan alpukat. Kita seirama memesan jus alpukat. Aku masih ingat senyummu yang mengembang.

Kemarin, kita jalan di siring kotabaru. Udara malam terasa dingin. Tapi hati kita hangat. Kita berpegangan tangan.

Dan di tengah malam ini. Aku terbangun sendiri. Memikirkan kamu yang tidur lelap disana. Kamu seperti kanak ketika tidur. Ingin aku menjagamu pada semua waktu.

Soal waktu di beberapa hari ke Lawan alamatnya kecamatan pamukan selatandepan. Banyak yang mesti kita persiapkan untuk hari kita. Tetap senang dan bersemangat. Kita selalu berpegangan erat, baby.

Aku bersedih ketika …

Aku bersedih ketika ia diperlakukan tidak adil. Aku bersedih ketika apa yang ia lakukan dengan apa yang ia dapatkan tidak sesuai. Aku bersedih ketika sesuatu yang tidak dikehendaki terjadi. Aku bersedih ketika ia merasa dijauhi oleh rekan kerjanya. Aku bersedih ketika ia merasa ada tumbuh komedo di hidungnya. Aku bersedih ketika ia merasa kulitnya menghitam terbakar matahari. Aku bersedih ketika pagi ia tidak sempat sarapan. Aku bersedih dengan segala kesedihan yang ia tanggung.

Kesedihan terbesarku adalah ketika aku tidak ada di sisimu saat kamu bersedih.

Memori tentang kamu dan pagi yang basah ini

Masih sangat jelas di ingatanku. Ketika suatu sore kita berpapasan bersepeda motor. Kamu menundukkan pandanganmu. Padahal saat itu aku memasang senyum lebar. Ada pertanyaan besar saat itu di kepalaku. Kenapa kamu menunduk. Padahal biasanya kita saling senyum.

Asal kau tau saja. Melihatmu senyum saja sudah cukup membuat hariku menyambung senang ke esok harinya. Tiap sore aku duduk disana. Di tempat dimana aku sering melihatmu lewat. Rambutmu basah. Matamu Ya Allah, terbuat dari apa, indah betul. Matamu menyimpan bahasa yang belum kupelajari sehingga aku sangat ingin mempelajarinya. Melalui matamu, aku lihat kamu kamu duduk disana, di pojokan ingatanku, mengetuk2 kesadaranku.

Di pagi yang basah ini, kamu sibuk sekali. Kamu bermetamorfosa di diriku. Sangat dekat dan intim. Kamu jatuh. Kamu menangis. Kamu senang. Kamu manja. Kamu marah. Kamu yang semua itu adalah kamu yang aku cintai, sedekat diriku sendiri.

Menikah, menurutku

Menikah bukan hanya perkara hidup bersama.

Bagiku, menikah adalah bagaimana aku mempertanggungjawabkan anak gadis orang untuk kehidupan berikutnya. Menikah bukan hanya tentang aku, tetapi bagaimana dua orang mampu menyusun rencana hidupnya, mempertebal ketaqwaan kepada Tuhan, merealisasikan kebutuhan harian, saling mendoakan, saling mendukung, saling menerima kekurangan pasangan, saling menutupi aib pasangan.

Dalam hal tersebut itu, aku sebagai lelaki, pun bagaimana berlaku sebagai pemimpin dalam rumah tangga yang akan kami jalani. Tidak ada satu kapal dengan dua kapten. Begitu pula berumah tangga. Tidak ada dua kepala dalam rumah tangga. Lantas bagaimana kami akan menyatukan dua kepala itu adalah dengan saling memahami satu sama lain. Sementara aku membimbingmu, istriku, dalam diri, aku terpacu untuk lebih memperbaiki diriku, karena aku adalah imam bagi kamu, istriku. Yang akan menjadi ayah bagi keturunan kita.

Tidak ada seseorang yang sempurna, yang ada adalah hubungan yang abadi. Dan untuk hal itulah, mimpi awal sebuah pernikahan dibangun.

Kita akan berproses menjalani peran masing-masing. Kau menjadi istri, aku menjadi suami. Bagaimana pun perjalanan itu, yang mesti kita ingatanmu adalah bahwa kita punya sesuatu yang tak ternilai. Sesuatu yang hanya bisa kita rasakan dalam perasaan terdalam kita. Sesuatu yang menjadikan kita bertahan dalam kondisi apapun. Sesuatu yang menguatkan kita satu sama lain.

Cepat pulang

Kau yang jauh disana
Cepatlah pulang
Kangenku memuncak
Aku menunggu dengan sabar
Pada malam yang panjang
Pikiranku berjalan-jalan
Yang kesemuanya cerita
Adalah kamu

Diriku berproses
Bersama waktu
Dalam kehati-hatian
Aku berjalan pelan
Kulihat kamu pada cermin
Kamu tersenyum melihatku
Ketika kuusap kembali mataku
Ternyata hanya ada aku seorang
Kamu telah merupa di diriku

Bulan sedang terang-terangnya malam ini
Rinduku berlapis-lapis

Ketidakpekaanku

Saatku menulis catatan ini, entah ia sedang tidur atau belum. Yang jelas ia sedang marah kepadaku. Dan memang, aku yang salah. Ia pantas marah.

Dari awal kedekatan kami. Ia sudah bilang bahwa ia tidak bisa dikasih janji untuk kemudian diingkari. Semua orang memang tidak senang dalam posisi demikian itu. Itu bukan permintaan berlebihan. Akunya saja yang tidak peka sama sekali.

Tadi sore, aku berbincang di telepon dengannya mengenai rencana yang akan kami lakukan malam ini. Jalan ke pasar Talusi menjadi salah satu rencana itu. Itu janji yang tidak kutepati. Padahal tadi sore aku menjanjikan akan kesana bersamanya.

Berkali-kali ia mengasih tanda kepadaku, aku tidak peka.

Tadi, ketika rampung makan malam dan menempel stiker PLS, ada dua rencana yang akan kami kerjakan lagi. Ke rumah abah nanda dan ke pasar talusi.

Padahal ia sudah berucap bahwa ke rumah abah nanda bisa saja ditunda menjadi malam nanti. Sementara pasar talusi tidak selalu buka setiap malam. Harusnya aku peka maksud dari pembicaraannya. Saking tidak peka dan egoisnya aku, malah ke rumah abah nanda.

Kedua, di jalan pulang dari rumah abah nanda, ia nanya kemana setelah ini. Aku malah ngeloyor ke SMP, masih tidak peka.

Ketiga, ia tetiba ingin pulang lalu berucap bolehkah jalan dengan hana. Aku jua masih tidak peka. Padahal rencana ke pasar talusi tadi sore muncul sesaat setelah ia ngobrol dengan hana, itu yang kudengar melalui telepon sore itu. Mestinya setelah ia mengucap nama hana, aku akan peka tentang rencana ke pasar talusi. Tapi nyatanya juga tidak.

Betapa itu semua adalah kesalahanku. Ketidakpekaan melukai diriku. Aku gagal menyenangkan hatinya. Ia sedang marah.

Aku meminta maaf kepadamu, sayang

Aku ingin bertukar diri denganmu

Aku ingin bertukar diri denganmu. Untuk merasakan ketidaknyamananmu tentang cibiran mereka.
Aku ingin menghabiskan biskuit yang tak kau suka.
Hingga hanya menyisakan biskuit yang kau suka.
Kebahagian dan kesedihan kita jalani. Jalan kita masih panjang. Aku semakin kuat, bersamamu. Kuberdoa kau juga demikian. Selalu.